Lead: Ramadan, bulan penuh berkah, dijalani umat Muslim dengan kebersamaan. Sahur, berbuka, hingga tarawih dilakukan bersama. Namun, ironi kerap terjadi saat Idul Fitri tiba. Beban persiapan perayaan seolah hanya menjadi tanggung jawab perempuan, memunculkan pertanyaan mendasar: Mengapa perayaan kemenangan tidak dirayakan secara setara?
Beban Ganda Perempuan di Hari Raya
Tradisi Lebaran di Indonesia seringkali menempatkan perempuan pada posisi yang kurang menguntungkan. Mereka dituntut untuk menyiapkan hidangan, membersihkan rumah, mengurus pakaian keluarga, hingga melayani tamu. Sementara itu, laki-laki umumnya lebih banyak berperan dalam shalat Id dan menerima tamu di ruang depan. Pola ini, yang telah lama dinormalisasi, menimbulkan ketidakadilan gender yang tersembunyi di balik gemerlap perayaan.
Gambaran ini bukan isapan jempol belaka. Di banyak keluarga Muslim, pembagian kerja yang tidak setara ini telah menjadi semacam ‘aturan tak tertulis’. Perempuan seringkali kelelahan fisik dan mental akibat beban persiapan yang menumpuk sejak akhir Ramadan. Ironisnya, kondisi ini jarang disadari sebagai masalah karena dianggap sebagai "kodrat" atau "bentuk kasih sayang" seorang istri dan ibu. Padahal, kelelahan ini dapat menggerus kegembiraan Idul Fitri yang seharusnya menjadi hak mereka.
Teladan Rasulullah dan Prinsip Mubadalah
Islam sesungguhnya tidak pernah menjustifikasi pembagian peran yang timpang dalam perayaan Idul Fitri. Justru sebaliknya, Rasulullah SAW memberikan teladan yang jelas tentang kesetaraan. Dalam sebuah riwayat, Aisyah ra. menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW aktif membantu pekerjaan rumah tangga. Teladan ini seharusnya menjadi inspirasi bagi umat Muslim untuk menciptakan tradisi Lebaran yang lebih adil dan setara.
Prinsip mubadalah, yang menekankan kesalingan dan kesetaraan relasional dalam Islam, menjadi kunci untuk memahami esensi perayaan yang sesungguhnya. Merayakan bersama berarti berbagi beban persiapan, mengambil keputusan bersama, dan merasakan kegembiraan bersama. Sebaliknya, menikmati perayaan tanpa kesalingan hanyalah bentuk lain dari ketidakadilan yang dibungkus tradisi. Faqihuddin Abdul Kodir, dalam bukunya Qira’ah Mubadalah, menekankan pentingnya membangun relasi suami-istri berdasarkan al-mu’asyarah bil-ma’ruf, yaitu pergaulan yang baik, setara, dan saling memuliakan.
Langkah Kecil, Dampak Besar
Kesalingan dalam merayakan Lebaran tidak harus dimulai dengan perubahan radikal. Langkah-langkah kecil dan konkret dapat memberikan dampak yang signifikan. Misalnya, laki-laki dapat ikut membantu memasak hidangan khas Lebaran seperti ketupat dan opor. Anak laki-laki dapat turut serta membersihkan rumah. Suami dapat mengambil alih sebagian tugas menerima tamu agar istri memiliki waktu untuk beristirahat. Bahkan, keputusan sederhana seperti memesan makanan jadi dapat mengurangi beban persiapan dan mencegah kelelahan pada satu pihak.
Perubahan-perubahan kecil ini bukan merupakan penghinaan terhadap tradisi, melainkan upaya untuk menyempurnakan tradisi agar lebih sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menekankan kesetaraan dan keadilan. Dengan berbagi peran dan tanggung jawab, seluruh anggota keluarga dapat merasakan kegembiraan Idul Fitri secara utuh.
Kembali ke Fitrah yang Setara
Idul Fitri merupakan momen untuk kembali ke fitrah, kembali ke kemanusiaan yang bersih dan setara. Jika selama bulan Ramadan, laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam beribadah, maka tidak ada alasan untuk membeda-bedakan peran mereka dalam merayakan kemenangan. Keduanya memiliki kemampuan yang sama untuk memasak, berhak atas waktu istirahat, dan berhak merayakan kemenangan Ramadan dengan sepenuh hati.
Kemenangan sejati adalah kemenangan yang dirasakan oleh semua pihak, bukan hanya sebagian. Dengan mewujudkan kesetaraan gender dalam tradisi Lebaran, kita dapat menciptakan perayaan yang lebih bermakna dan berkeadilan bagi seluruh anggota keluarga.








