Tim SAR gabungan yang melakukan evakuasi korban helikopter yang jatuh di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, terpaksa bermalam di lokasi kejadian akibat medan yang terjal dan jarak pandang yang terbatas. Penundaan evakuasi hingga Jumat (17/4/2026) pagi ini menggarisbawahi tantangan berat yang dihadapi tim penyelamat dalam operasi di wilayah yang sulit dijangkau.
Kondisi Medan Persulit Evakuasi
Kepala Bagian Operasional Polres Sekadau, AKP Sugiyanto, menjelaskan bahwa tim gabungan telah berhasil mencapai titik lokasi jatuhnya helikopter milik PT Matthew Air dengan nomor registrasi PK-CFX. Namun, kondisi gelap dan topografi yang ekstrem membuat evakuasi pada malam hari menjadi sangat berisiko. "Tim sudah berada di lokasi jatuhnya helikopter. Namun karena kondisi gelap dan medan yang terjal, evakuasi belum memungkinkan dilakukan malam ini," ujarnya di Nanga Taman, Jumat malam.
Tim gabungan, yang terdiri dari unsur TNI, Basarnas, BPBD, Lantas Hutan (LTH), Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Sekadau, pemadam kebakaran, serta masyarakat setempat, memutuskan untuk bermalam atau bivak sekitar 50 meter dari titik jatuhnya helikopter di Kecamatan Nanga Taman. Mereka akan melanjutkan proses evakuasi pada pagi hari dengan menggunakan peralatan yang saat ini sedang dipersiapkan dan dikirim ke lokasi.
Pencarian Intensif dan Tantangan Cuaca
Sebelumnya, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Kansar) Pontianak, I Made Junetra, menyatakan bahwa tim gabungan terus memaksimalkan pencarian setelah adanya indikasi serpihan helikopter yang terdeteksi melalui pemantauan udara. "Setelah briefing, kami menerima informasi awal adanya serpihan di titik koordinat yang telah diidentifikasi. Namun ini masih berdasarkan pengamatan dari udara," kata Junetra.
Pencarian udara telah dilakukan beberapa kali untuk memastikan lokasi jatuhnya helikopter. Namun, operasi ini sangat bergantung pada kondisi cuaca dan faktor keselamatan penerbangan. Sementara itu, tim darat yang dipimpin oleh on-scene commander (OSC) dari Sintang terus bergerak mendekati titik koordinat meskipun harus menghadapi medan berat berupa tebing curam dan vegetasi yang sangat rapat. Keterbatasan aksesibilitas dan perubahan cuaca yang cepat menjadi kendala utama dalam proses pencarian dan evakuasi.
Persiapan Penanganan Korban
Basarnas telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk kepolisian, untuk menyiapkan tim Disaster Victim Identification (DVI), rumah sakit, serta ambulans sebagai langkah antisipasi. Posko utama juga telah dibuka di Pontianak guna memudahkan koordinasi dan pelayanan informasi kepada keluarga korban. Langkah-langkah ini menunjukkan kesiapan pihak berwenang dalam menghadapi kemungkinan terburuk dan memberikan dukungan kepada keluarga yang terdampak.
Identitas Korban dan Kronologi Kejadian
Helikopter jenis Airbus H130 tersebut mengangkut delapan orang, terdiri dari Kapten Marindra W sebagai pilot, Harun Arasyd sebagai co-pilot, serta enam penumpang, yaitu Patrick K, Victor T, Charles L, Joko C, Fauzie O, dan Sugito. Helikopter dilaporkan lepas landas dari helipad PT CMA di Desa Nanga Keruap, Kabupaten Melawi, pada pukul 07.34 WIB. Pesawat kemudian hilang kontak pada pukul 08.39 WIB saat dalam perjalanan menuju helipad PT GAN di Desa Teluk Bakung, Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Hilangnya kontak helikopter ini memicu operasi pencarian dan penyelamatan besar-besaran.
Fokus pada Keselamatan Tim Evakuasi
Prioritas utama saat ini adalah keselamatan seluruh personel yang terlibat dalam operasi evakuasi. Kondisi medan yang berat dan cuaca yang tidak menentu menuntut kehati-hatian ekstra dalam setiap langkah yang diambil. Evakuasi akan dilanjutkan pada pagi hari dengan mempertimbangkan faktor keselamatan dan efektivitas operasi. Pihak berwenang terus berupaya untuk memberikan informasi terbaru kepada keluarga korban dan masyarakat luas mengenai perkembangan proses evakuasi.








