Lumajang, Jawa Timur – Warga Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, kembali menyuarakan kekecewaan atas lambatnya realisasi relokasi yang dijanjikan pemerintah daerah pasca-bencana erupsi Gunung Semeru. Janji relokasi yang telah digaungkan sejak erupsi besar tahun 2021, hingga kini masih menjadi wacana tanpa kejelasan konkret, memicu keresahan di tengah masyarakat yang hidup dalam bayang-bayang ancaman erupsi susulan.
Ancaman Nyata di Zona Merah
Dusun Sumberlangsep kini ditetapkan sebagai zona merah baru pasca-erupsi dahsyat Semeru pada akhir tahun 2025. Lokasi ini dinilai sangat rentan terhadap aliran lahar dan awan panas, terutama melalui jalur Kali Regoyo yang menjadi sungai utama yang berhulu langsung di puncak Semeru. Kondisi ini diperparah dengan hancurnya jembatan penghubung utama akibat terjangan lahar beberapa bulan lalu, membatasi aksesibilitas warga dan meningkatkan risiko isolasi saat bencana terjadi.
"Pemerintah sudah sejak beberapa tahun lalu merencanakan relokasi sekitar 154 kepala keluarga atau lebih dari 500 warga Sumberlangsep, tapi hingga kini belum terealisasi. Warga memerlukan solusi yang jelas, bukan sekedar wacana berulang," ungkap Ahmad Samiludin (54), relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) Korwil Jawa Timur, yang aktif membantu warga Sumberlangsep.
Trauma Erupsi dan Janji yang Belum Terpenuhi
Erupsi Gunung Semeru pada tahun 2021 meninggalkan trauma mendalam bagi warga Sumberlangsep. Desa yang sebelumnya dikenal tenang, mendadak berubah menjadi wilayah rawan bencana. Ratusan rumah hancur, infrastruktur rusak parah, dan mata pencaharian warga terganggu. Pemerintah kemudian menjanjikan relokasi sebagai solusi permanen untuk menjamin keselamatan warga dari ancaman erupsi susulan.
Namun, janji tersebut tak kunjung ditepati. Warga merasa diabaikan dan hidup dalam ketidakpastian. Mereka mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam menangani dampak bencana dan melindungi warganya.
Kesiapan Relokasi yang Dipertanyakan
Ahmad Samiludin, relawan UAR yang juga warga Kecamatan Candipuro, menekankan bahwa warga pada prinsipnya mengutamakan keselamatan. Namun, relokasi harus dipersiapkan secara matang, mulai dari penyediaan lahan yang layak, pembangunan hunian tetap yang memadai, hingga ketersediaan fasilitas umum yang menunjang kehidupan sehari-hari.
"Relokasi bukan hanya sekadar memindahkan warga dari satu tempat ke tempat lain. Pemerintah harus memastikan bahwa warga dapat hidup dengan layak dan aman di lokasi baru," tegas Ahmad.
Respon Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Lumajang, di bawah kepemimpinan Bupati Indah Amperawati, mengklaim telah menyiapkan lahan relokasi seluas 1,5 hektar di belakang Balai Desa Jugosari. Bupati menyatakan bahwa langkah ini diambil untuk menjamin keselamatan warga dalam jangka panjang.
"Lahan sudah tersedia seluas 1,5 hektar. Nanti akan segera kita atur agar mencukupi untuk pembangunan hunian warga Sumberlangsep yang terdampak erupsi Semeru," tutur Bupati Lumajang dalam pertemuan dengan warga.
Tuntutan Transparansi dan Partisipasi
Meskipun pemerintah telah menyiapkan lahan, sebagian warga masih berharap proses relokasi dilakukan secara transparan dan partisipatif. Mereka menginginkan dialog terbuka dengan pemerintah, kepastian tahapan pelaksanaan, serta jaminan bahwa relokasi tidak hanya menjadi rencana yang terus berulang tanpa realisasi.
Relawan UAR pun berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi yang tepat, cepat, dan berpihak pada keselamatan sekaligus keberlangsungan hidup warga Sumberlangsep, sembari tetap memperhatikan kebutuhan mendesak di lokasi saat ini, termasuk akses infrastruktur, hunian sementara, dan fasilitas ibadah.
Kewaspadaan di Tengah Ancaman Semeru
Hingga kini, aktivitas Gunung Semeru masih terus dipantau oleh berbagai pihak. Warga di sekitar kaki gunung diimbau tetap waspada, terutama saat terjadi hujan deras yang berpotensi memicu aliran lahar di sepanjang sungai berhulu di puncak Semeru. Beberapa warga dilaporkan pernah terjebak di tengah Kali Regoyo saat banjir lahar dingin tiba-tiba datang, mengingatkan akan bahaya laten yang terus mengintai. Realisasi relokasi yang tertunda semakin menambah kecemasan warga Sumberlangsep, yang berharap segera mendapatkan kepastian dan perlindungan dari ancaman erupsi Semeru.








