Pada era digital yang serba cepat ini, di mana teknologi telah merasuki hampir setiap aspek kehidupan, pertanyaan mendasar tentang arah peradaban manusia kembali mengemuka. Apakah kita sedang menuju dekadensi akibat ketergantungan berlebihan pada teknologi, atau justru membuka jalan bagi optimisme peradaban yang lebih tinggi? Pemikiran Erich Fromm, seorang sosio-psikolog humanis terkemuka, menawarkan perspektif yang relevan untuk menjawab pertanyaan ini.
Fromm, dalam karyanya "The Revolution of Hope: Toward a Humanized Technology" (1968), jauh sebelum era internet dan kecerdasan buatan (AI) seperti sekarang, telah meramalkan potensi bahaya dari kemajuan teknologi yang tidak terkendali. Ia melihat bahwa manusia modern, yang terobsesi dengan efisiensi dan produktivitas, berisiko kehilangan kedalaman eksistensialnya dan terperangkap dalam sistem teknologi yang dehumanisasi.
Paradoks Kemajuan Teknologi
Kini, kita menyaksikan paradoks yang diungkapkan Fromm menjadi semakin nyata. Teknologi, yang seharusnya menjadi alat untuk membantu manusia, justru seringkali mengambil alih proses berpikir dan pengambilan keputusan. Dalam dunia pendidikan, misalnya, akses mudah ke informasi dan alat bantu AI memang meningkatkan produktivitas. Namun, hal ini juga menimbulkan pertanyaan: apakah kita masih benar-benar berpikir, atau hanya memproses informasi yang disajikan oleh algoritma?
Fromm menekankan bahwa bahaya utama modernitas adalah pergeseran dari "to be" (menjadi) ke "to have" (memiliki). Manusia lebih sibuk mengumpulkan data dan informasi daripada mengembangkan kesadaran diri, refleksi, dan pemahaman yang mendalam. Dalam konteks teknologi, kita lebih fokus pada menghasilkan output daripada mengalami proses intelektual yang bermakna. Penggunaan AI dalam penulisan, misalnya, dapat menghasilkan teks yang cepat dan efisien, tetapi seringkali kehilangan "roh" atau sentuhan manusiawi yang muncul dari proses berpikir dan merasakan yang otentik.
Ancaman "Cybernetic Man" dan Algoritma
Lebih lanjut, Fromm memperingatkan tentang bahaya "cybernetic man," yaitu manusia yang perilakunya diatur oleh sistem umpan balik teknologis. Di era digital, sistem ini terwujud dalam bentuk algoritma yang menentukan apa yang kita lihat, baca, dan pikirkan. Algoritma media sosial dan mesin pencari, misalnya, secara halus memengaruhi opini dan preferensi kita dengan menampilkan informasi yang sesuai dengan kecenderungan kita. Tanpa disadari, kita hidup dalam "koridor" yang dipetakan oleh mesin, dan kebebasan yang kita rasakan hanyalah ilusi dari pilihan yang sudah ditentukan.
Namun, Fromm bukanlah seorang pesimis teknologi. Ia percaya bahwa teknologi dapat menjadi kekuatan positif jika digunakan dengan bijak dan diarahkan oleh nilai-nilai humanistik. Solusinya bukanlah menolak kemajuan, melainkan mengembalikannya pada orientasi akal dan kemanusiaan. Teknologi harus melayani nilai-nilai seperti cinta, kreativitas, tanggung jawab, dan kesadaran diri.
Revolusi Kesadaran dan Tanggung Jawab
Fromm menyerukan "Revolusi Harapan," yang bukan merupakan revolusi mesin, melainkan revolusi kesadaran. Di era kecerdasan buatan, pertanyaan mendasar yang harus kita ajukan adalah: apakah kita masih berpikir, atau hanya sekadar memproses? Harapan hanya mungkin jika kita berani bertanggung jawab atas ciptaan kita. Jika tidak, kita akan diperbudak oleh sistem yang kita bangun sendiri.
Maka, di hadapan masyarakat maya hari ini, pertanyaan tentang dekadensi atau optimisme peradaban bukanlah tentang teknologi itu sendiri, melainkan tentang orientasi manusia sebagai subjek pengendalinya. Kecerdasan buatan tidak memiliki kehendak; ia hanya memantulkan kehendak penciptanya. Jika kita menjadikannya tuan, maka dekadensi bukanlah kemungkinan, melainkan keniscayaan. Namun, jika kita tetap menempatkannya sebagai alat untuk memperluas kemampuan berpikir dan memperkaya eksplorasi intelektual, maka optimisme peradaban masih terbuka lebar. Kuncinya adalah kesadaran, tanggung jawab, dan komitmen untuk menggunakan teknologi secara humanis.








