Rentak Jiwa: Transformasi Ritus Rantak Kudo Menuju Layar Lebar

Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern yang serba cepat, kebutuhan manusia akan katarsis dan ruang untuk melepaskan diri dari tekanan…

Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern yang serba cepat, kebutuhan manusia akan katarsis dan ruang untuk melepaskan diri dari tekanan batin semakin mendesak. Film "Rentak Jiwa: Remediasi Kehisteriaan Pertunjukan Rantak Kudo dalam Film," karya sutradara Ediantes, hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut. Film ini mencoba menjembatani kesenjangan antara tradisi lisan dan visual modern, mentransformasikan energi dan emosi yang terkandung dalam ritus pertunjukan Rantak Kudo ke dalam medium sinema.

Film ini dipresentasikan dalam sebuah screening terbuka pada Rabu, 25 Maret 2026, di Institut Français d’Indonésie Yogyakarta. Acara ini bukan hanya sekadar pemutaran film, tetapi juga sebuah forum untuk pembacaan kritis terhadap seni pertunjukan tradisional dan eksplorasi medium film sebagai sarana pelestarian budaya.

Rantak Kudo: Ritus dan Identitas

Rantak Kudo adalah seni pertunjukan tradisional yang berasal dari Sumatera Barat. Lebih dari sekadar hiburan, Rantak Kudo merupakan bagian integral dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat. Pertunjukan ini berfungsi sebagai wadah untuk menyalurkan emosi, menyampaikan aspirasi, dan memperkuat solidaritas komunal. Unsur trance, ekstase kolektif, dan histeria yang kerap muncul dalam Rantak Kudo bukanlah manifestasi irasionalitas, melainkan mekanisme pelepasan psikologis yang terstruktur secara kultural.

Dalam konteks modern, keberadaan ruang-ruang komunal semacam ini semakin tergerus oleh individualisme dan fragmentasi sosial. Film "Rentak Jiwa" berupaya menghidupkan kembali fungsi katarsis sosial dari Rantak Kudo, menawarkan pengalaman menonton yang tidak hanya pasif, tetapi juga reflektif dan transformatif.

Remediasi: Jembatan Antara Tradisi dan Sinema

Tantangan utama dalam mengadaptasi Rantak Kudo ke dalam film terletak pada perbedaan mendasar antara pengalaman langsung dalam pertunjukan ritus dan representasi visual dalam sinema. Film bekerja dengan logika representasi, sementara pertunjukan ritus hidup dalam pengalaman langsung yang tubuhiah dan kolektif. Konsep "remediasi" menjadi kunci dalam proses ini, yaitu bagaimana satu medium menerjemahkan pengalaman dari medium lain tanpa kehilangan esensi emosionalnya.

Ediantes tidak hanya mendokumentasikan pertunjukan Rantak Kudo, tetapi berupaya menangkap "energi" yang muncul di dalamnya. Melalui penggunaan sinematografi yang dinamis, tata suara yang imersif, dan editing yang cermat, penonton diajak untuk merasakan ketegangan, ledakan emosi, hingga pelepasan yang terjadi dalam ruang pertunjukan, meskipun kini dialami melalui layar.

Katarsis di Layar Lebar: Relevansi di Era Modern

Screening film "Rentak Jiwa" menjadi sangat relevan dalam konteks kehidupan masyarakat modern yang serba tertekan. Banyak individu menjalani rutinitas yang monoton tanpa memiliki ruang aman untuk mengekspresikan emosi. Tekanan yang tidak tersalurkan ini dapat menumpuk menjadi kegelisahan kolektif yang berujung pada masalah kesehatan mental dan sosial.

Dalam perspektif ini, film "Rentak Jiwa" hadir sebagai pengingat bahwa kesenian dapat berfungsi sebagai ruang terapi sosial (healing). Ia membuka kemungkinan bahwa pengalaman menonton tidak hanya bersifat pasif, tetapi juga menjadi proses reflektif dan katarsis. Energi kolektif yang tercipta dalam ruang screening, di mana penonton dapat berbagi pengalaman emosional, menjadi bagian penting dari pengalaman itu sendiri.

Ediantes: Akademisi dan Praktisi Seni

Di balik "Rentak Jiwa" adalah Ediantes, S.Sn., M.Sn., seorang tenaga pendidik di Institut Seni Indonesia Padangpanjang yang aktif sebagai akademisi sekaligus praktisi seni. Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan doktoral di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, di mana riset dan praktik penciptaannya berupaya menjembatani tradisi dengan medium kontemporer. Karya ini bukan hanya ekspresi artistik, tetapi juga kontribusi akademik dalam membaca ulang fungsi seni pertunjukan di era modern. Ediantes menegaskan bahwa seni tidak hanya berfungsi sebagai cermin realitas, tetapi juga sebagai ruang untuk mengolah, memahami, dan merespons kompleksitas zaman.

Mengundang Partisipasi Publik

Screening film "Rentak Jiwa" adalah bagian dari pagelaran karya disertasi berjudul "Rentak Jiwa: Remediasi Kehisteriaan Pertunjukan Rantak Kudo dalam Film." Acara ini terbuka untuk publik, khususnya pegiat seni, akademisi, dan masyarakat umum. Melalui screening ini, publik diajak untuk tidak hanya menonton film, tetapi juga merenungkan kembali fungsi dasar kesenian dalam kehidupan manusia. Di tengah dunia yang semakin kompleks, mungkin yang kita butuhkan bukan sekadar hiburan, melainkan ruang untuk merasa, berbagi, dan melepaskan.

Artikel Disetujui Oleh
ReporterToramanu

Sorotan

OTT Kepala Daerah: Kemendagri Soroti Krisis Integritas dan Desakan Perbaikan Sistem
Gelombang operasi tangkap tangan (OTT) yang menjerat sejumlah kepala daerah...
18 Apr 2026News
IPB University Libatkan Mahasiswa dalam Penanganan Kasus Pelecehan: Upaya Transparansi dan Keadilan
IPB University mengambil langkah proaktif dengan melibatkan mahasiswa secara langsung...
18 Apr 2026News
TPA Suwung Kembali Terima Sampah Organik Usai Gelombang Protes Masyarakat Bali
Denpasar, Bali – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung di Denpasar,...
17 Apr 2026News
Apresiasi Berburu Ikan Invasif: Petugas Jakarta Barat Diganjar Uang dan Rekreasi
Pemerintah Kota Jakarta Barat memberikan apresiasi unik kepada tim petugas...
17 Apr 2026News
Pendakwah SAM Diduga Kabur ke Mesir, Polisi Didorong Libatkan Interpol Usut Dugaan Pencabulan
Kasus dugaan pencabulan yang menyeret seorang pendakwah berinisial SAM memasuki...
17 Apr 2026News
Medan Berat Hambat Evakuasi Korban Helikopter Jatuh di Sekadau, Tim SAR Bivak di Lokasi
Tim SAR gabungan yang melakukan evakuasi korban helikopter yang jatuh...
17 Apr 2026News
Ads