BOGOR – Dalam khotbah Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah yang disampaikan di Pondok Pesantren Al-Fatah, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah), KH. Yakhsyallah Mansur, menekankan urgensi persatuan dan kehidupan berjamaah dalam pengamalan ajaran Islam. Di hadapan ratusan jamaah, Imaam Yakhsyallah menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan perpecahan, melainkan menggarisbawahi pentingnya kebersamaan dan persatuan umat, yang dikenal sebagai Al-Jama’ah, sebuah kehidupan yang terpimpin sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.
Esensi Jamaah dalam Ibadah dan Kehidupan
Imaam Yakhsyallah menyoroti bagaimana umat Islam selama bulan Ramadhan menjalankan berbagai ibadah secara kolektif, mulai dari shalat tarawih, berbuka puasa, hingga sahur bersama. Menurutnya, semangat kebersamaan ini seharusnya terus dipelihara dan diimplementasikan dalam seluruh aspek kehidupan. "Sejak awal Ramadhan hingga akhir, kita melaksanakan ibadah secara bersama-sama… Maka sudah seharusnya kita juga mengakhirinya dalam kebersamaan atau berjama’ah," ujarnya.
Lebih lanjut, Imaam Yakhsyallah menjelaskan bahwa konsep Al-Jama’ah telah menjadi bagian integral dari ajaran para nabi sejak zaman Nabi Nuh AS, kemudian dilanjutkan oleh Nabi Ibrahim AS, Nabi Musa AS, Nabi Isa AS, hingga Nabi Muhammad SAW. Ini menunjukkan bahwa persatuan umat merupakan nilai fundamental yang universal dalam risalah kenabian.
Kepemimpinan dalam Jamaah: Antara Ketaatan dan Batasan
Dalam khotbahnya, Imaam Yakhsyallah juga mengutip Surat An-Nisa ayat 59 dalam Al-Qur’an, yang menekankan pentingnya kepemimpinan dalam sebuah jamaah. Ia juga mengutip perkataan Umar bin Khattab RA mengenai signifikansi jamaah dan ketaatan kepada pemimpin. "Tidak sempurna keislaman seseorang tanpa berjamaah, tidak ada jamaah tanpa kepemimpinan, dan tidak ada gunanya punya pemimpin tapi tidak mentaatinya, selama tidak bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya," tegasnya.
Namun, Imaam Yakhsyallah juga memberikan penekanan penting bahwa Al-Jama’ah yang dimaksud adalah apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya, bukan berdasarkan pada batasan negara atau afiliasi partai politik tertentu. Hal ini mengindikasikan bahwa persatuan umat harus melampaui sekat-sekat duniawi dan berlandaskan pada prinsip-prinsip Islam yang murni.
Nasihat Bagi Kaum Muslimat dan Solidaritas Palestina
Selain menekankan pentingnya jamaah, Imaam Yakhsyallah juga memberikan nasihat khusus kepada kaum muslimat. Ia mengajak mereka untuk menjadi wanita-wanita penghuni surga dengan mendukung perjuangan suami, memperbanyak sedekah, dan menjaga kehormatan keluarga.
Tak hanya itu, Imaam Yakhsyallah juga menyerukan kepada seluruh umat Islam, khususnya kaum muslimat, untuk menunjukkan kepedulian terhadap perjuangan rakyat Palestina dan pembebasan Masjidil Aqsa dari pendudukan zionis Israel. Seruan ini mencerminkan kepedulian yang mendalam terhadap isu-isu global yang dihadapi umat Islam.
Penetapan 1 Syawal 1447 H: Istikmal Ramadhan
Jamaah Muslimin (Hizbullah) memulai ibadah puasa Ramadhan pada hari Rabu, 18 Februari 2026. Setelah melakukan Sidang Isbat pada Rabu petang, 18 Maret 2026, diputuskan untuk mengistikmalkan atau menggenapkan bilangan puasa Ramadhan menjadi 30 hari, mengingat rukyat hilal yang dilakukan baik di Indonesia maupun di Timur Tengah tidak berhasil melihat hilal. Keputusan ini menunjukkan komitmen Jamaah Muslimin (Hizbullah) terhadap metode penetapan awal bulan Hijriah yang sesuai dengan tuntunan syariat Islam.
Khotbah Idul Fitri yang disampaikan oleh Imaam Yakhsyallah Mansur ini menjadi pengingat penting bagi umat Islam akan esensi persatuan, kepemimpinan yang adil, dan kepedulian terhadap sesama, baik di tingkat lokal maupun global. Semangat Idul Fitri diharapkan dapat menjadi momentum untuk mempererat tali persaudaraan dan meningkatkan kualitas diri sebagai umat Islam yang rahmatan lil alamin.








