Pertanyaan klise "Nanti lulus mau jadi apa?" menghantui hampir setiap mahasiswa seni, khususnya mereka yang mendalami seni tari. Pertanyaan ini bukan sekadar basa-basi, melainkan cerminan keraguan masyarakat terhadap prospek karier di bidang seni. Bagi sebagian orang, seni dianggap sebagai hobi yang menyenangkan, namun diragukan keberlanjutannya sebagai sumber penghidupan yang stabil. Padahal, bagi para penari dan pelaku seni lainnya, pilihan ini adalah sebuah panggilan jiwa, sebuah komitmen untuk melestarikan warisan budaya bangsa.
Akar Seni dalam Keluarga
Kisah Godlief Muabuay, seorang mahasiswa seni tari asal Papua, memberikan gambaran nyata tentang bagaimana seni dapat menjadi fondasi kehidupan. Lahir dan tumbuh dalam keluarga penari, seni bukan hanya bagian dari keseharian, tetapi juga perekat yang menyatukan keluarga. Orang tuanya bertemu dan jatuh cinta melalui dunia tari, membentuk sebuah keluarga yang kental dengan nuansa seni. Meskipun tidak semua saudaranya menekuni tari secara profesional, kecintaan pada seni tetap mengalir dalam darah mereka.
Penemuan Jati Diri Melalui Gerak
Perjalanan Godlief dalam dunia tari dimulai secara tak terduga. Awalnya aktif dalam kegiatan kepramukaan, ia kemudian diperkenalkan pada seni tari tradisional Papua. Dari sekadar mengikuti latihan, ia menemukan potensi dan ketertarikan yang mendalam pada seni tari. Ketertarikan ini membawanya bergabung dengan sanggar tari, mengasah kemampuan, dan memperdalam pengetahuannya tentang tari-tarian tradisional Papua. Baginya, menari bukan lagi sekadar kegiatan ekstrakurikuler, melainkan bagian tak terpisahkan dari identitas dirinya.
Pendidikan Seni Sebagai Investasi Masa Depan
Keputusan Godlief untuk melanjutkan pendidikan di kampus seni, mengambil program studi tari, adalah langkah strategis untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kompetensi. Ia menyadari bahwa menari saja tidak cukup; ia perlu memahami sejarah, filosofi, dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam setiap gerakan tari. Pendidikan formal di bidang seni memberinya landasan teoretis yang kuat untuk mengembangkan diri sebagai penari yang lebih profesional dan berpengetahuan luas.
Tantangan Persepsi Masyarakat
Namun, pilihan Godlief untuk menekuni seni tari tidak selalu disambut dengan dukungan penuh. Pertanyaan-pertanyaan skeptis tentang masa depan dan prospek karier di bidang seni seringkali menghantuinya. Bahkan, ada yang mempertanyakan mengapa ia tidak memilih pekerjaan yang lebih "mapan" seperti anak muda lainnya. Persepsi sempit ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih belum memahami peran penting seni dalam kehidupan sosial dan budaya.
Seni Sebagai Jaga Diri Budaya
Orang tua Godlief memberikan jawaban bijaksana atas keraguan tersebut. Mereka percaya bahwa setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing, dan mereka tidak ingin membatasi pilihan anaknya selama itu positif dan bernilai. Mereka yakin bahwa melalui seni, seseorang dapat memperoleh pengalaman, prestasi, dan bahkan penghidupan yang layak. Jawaban ini mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang nilai seni sebagai bagian dari identitas budaya bangsa. Seni bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana untuk menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah gempuran budaya asing.
Tanggung Jawab Generasi Muda
Di era globalisasi ini, budaya lokal seringkali terpinggirkan. Banyak generasi muda lebih tertarik pada budaya populer dari luar negeri, dan menganggap budaya sendiri sebagai sesuatu yang kuno dan tidak relevan. Jika tren ini terus berlanjut, maka warisan budaya bangsa akan terancam punah. Inilah mengapa peran generasi muda yang memilih jalan di dunia seni menjadi sangat penting. Mereka tidak hanya mengejar minat pribadi, tetapi juga memikul tanggung jawab untuk menjaga keberlangsungan budaya. Menari bukan hanya soal panggung dan pertunjukan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.
Lulusan seni tari memiliki beragam pilihan karier, mulai dari penari profesional, pengajar seni, koreografer, peneliti budaya, hingga pelaku industri kreatif. Namun, yang terpenting adalah peran mereka dalam menjaga keberlangsungan budaya. Seni adalah bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat, dan jika generasi muda berhenti peduli pada budaya sendiri, maka warisan itu akan hilang. Menari bukan sekadar hobi, melainkan tanggung jawab untuk melestarikan warisan budaya bangsa. Jika bukan kita yang menjaganya, lalu siapa lagi? Dan jika bukan sekarang waktunya, kapan lagi?








