Makassar, Sulawesi Selatan – Sherly Tjoanda, seorang tokoh yang dikenal dengan kiprahnya di Maluku Utara, memanfaatkan kehadirannya di acara Persatuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI tahun 2026 untuk menjalin koneksi bisnis dan mengenang akar keluarganya. Di tengah forum para pengusaha terkemuka itu, ia tak hanya memaparkan potensi investasi di wilayah yang dipimpinnya, tetapi juga berbagi kisah inspiratif tentang perjalanan hidup sang ayah yang berasal dari Makassar.
Jejak Langkah Sang Ayah di Makassar
Dalam balutan busana adat yang anggun, Sherly membuka diri di hadapan para saudagar dengan menceritakan masa kecil ayahnya, Paulus Tjoanda, di Makassar. Ia menggambarkan bagaimana ayahnya tumbuh dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas. Keterbatasan itu membentuk karakter pekerja keras dan pantang menyerah dalam diri Paulus. Sherly menuturkan bagaimana ayahnya seringkali hanya mampu membeli semangkuk "nyuknyang" (coto Makassar) dengan isi yang minim, namun tetap bersyukur dan berjuang untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Kisah sederhana ini, menurut Sherly, menjadi pengingat bagi keluarganya akan pentingnya menghargai setiap rezeki dan terus berupaya memberikan yang terbaik. Bahkan, setiap kali kembali ke Makassar, Paulus selalu menyempatkan diri untuk menikmati "nyuknyang" sebagai bentuk napak tilas dan mengenang masa-masa sulit yang telah dilalui.
Dari Bengkel Kecil Hingga Pasar Ekspor Internasional
Perjuangan Paulus Tjoanda tidak berhenti di situ. Dengan bekal pendidikan teknik, ia memulai usaha dari nol dengan mendirikan sebuah bengkel kecil. Kerja keras dan ketekunannya membuahkan hasil, bengkel tersebut berkembang menjadi bisnis perkapalan yang sukses. Bisnisnya terus berkembang, merambah ke sektor cold storage, hingga akhirnya mampu menembus pasar ekspor internasional.
Sherly mengakui bahwa dirinya tidak mengalami kesulitan ekonomi seperti yang dialami ayahnya. Ia tumbuh dalam kondisi yang lebih baik. Namun, nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan oleh sang ayah, terutama tentang pentingnya kerja keras, kejujuran, dan memberikan manfaat bagi orang lain, tetap menjadi pedoman utama dalam setiap langkahnya.
Menawarkan Peluang Investasi di Maluku Utara
Selain berbagi kisah inspiratif, Sherly juga memanfaatkan forum PSBM untuk mempromosikan potensi investasi di Maluku Utara. Sebagai kepala daerah, ia melihat peluang besar bagi para pengusaha Bugis Makassar untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi di wilayahnya.
Sherly menyoroti pertumbuhan ekonomi Maluku Utara yang pesat, terutama didorong oleh sektor hilirisasi nikel. Namun, ia juga mengakui bahwa sebagian besar kebutuhan pokok di daerahnya masih dipasok dari luar. Kondisi ini, menurutnya, membuka peluang investasi yang sangat besar di berbagai sektor, terutama pangan dan logistik.
Ia mencontohkan, kebutuhan daging ayam di Maluku Utara mencapai sekitar 25 ribu ton per tahun, dengan potensi ekonomi mencapai hampir Rp1 triliun. Selain itu, potensi perikanan diperkirakan mencapai Rp14 triliun, namun baru sekitar 20 persen yang termanfaatkan. Kebutuhan beras juga sangat tinggi, mencapai sekitar Rp2,5 triliun per tahun.
Harapan Kolaborasi untuk Ketahanan Pangan
Sherly berharap, melalui kolaborasi dengan para saudagar Bugis Makassar, pembangunan ekonomi di Maluku Utara dapat dipercepat dan ketahanan pangan dapat diperkuat. Ia melihat hubungan dengan Makassar bukan hanya sebagai cerita masa lalu, tetapi juga sebagai jembatan untuk membangun kerja sama dan peluang ekonomi di masa depan.
Ajakan investasi ini bukan hanya tentang keuntungan bisnis semata, tetapi juga tentang kontribusi nyata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Maluku Utara. Sherly meyakini, dengan sinergi antara pemerintah daerah, pengusaha lokal, dan investor dari luar, Maluku Utara dapat menjadi daerah yang mandiri dan sejahtera.








