Cari Kerja Susah di Indonesia? Ini #CaraKaburCerdas ke Luar Negeri Lewat Beasiswa, Strategi Lulusan Indonesia Menembus Karier Internasional 

Jumlah lulusan sarjana di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Namun, di saat yang sama, satu fakta tak bisa dihindari: peluang…

Jumlah lulusan sarjana di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Namun, di saat yang sama, satu fakta tak bisa dihindari: peluang kerja tidak bertambah secepat jumlah pencari kerja. Akibatnya, banyak lulusan terjebak dalam persaingan yang semakin padat, bahkan sebelum benar-benar memulai karier.

Kondisi ini menjadi perhatian serius praktisi pendidikan internasional, Aji Saptaji, yang saat ini menjabat sebagai Direktur Pengembangan Bisnis Next Gen Edu, sebuah lembaga konsultan pendidikan internasional yang fokus pada bimbingan beasiswa pascasarjana luar negeri. Berbasis di Kota Bandung, Next Gen Edu memiliki beberapa perwakilan di Jakarta, Medan, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Malang, dan Denpasar, dengan jangkauan siswa di seluruh Indonesia.

Menurut Aji, fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan sinyal kuat bahwa lulusan muda harus mulai mengubah strategi.

“Realitanya, persaingan kerja makin ketat. Tidak cukup hanya mengandalkan ijazah dari kampus bergengsi, baik PTN BH maupun swasta ternama. Itu bukan lagi pembeda utama. Harus ada langkah berani untuk naik level,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa terlalu bergantung pada peluang kerja di dalam negeri justru membuat banyak lulusan masuk ke arena yang sangat kompetitif.

“Kalau hanya berharap kerja di dalam negeri, Anda sedang bersaing di pasar yang penuh. Harus berani melihat peluang global. Supply lulusan perguruan tinggi saat ini tidak sebanding dengan demand lapangan pekerjaan,” tegasnya.

Pria yang pernah tinggal selama lima tahun di Perth, Australia, ini melihat ada satu strategi yang masih jarang dimanfaatkan secara maksimal oleh lulusan sarjana Indonesia, yaitu memanfaatkan jalur beasiswa internasional sebagai pintu masuk menuju karier global.

Menurutnya, jalur karier maupun migrasi ke suatu negara melalui studi merupakan salah satu langkah terbaik karena memiliki credit point yang sangat tinggi di banyak negara di dunia. Ia menyebut jalur ini sebagai “kasta tertinggi” untuk mendapatkan visa tinggal, selain melalui visa tenaga ahli.

Aji juga menyarankan agar lulusan sarjana maupun magister yang berencana melanjutkan studi S2 atau S3 di luar negeri memandang langkah tersebut bukan sekadar pilihan akademik, melainkan strategi memperluas akses karier.

Diakuinya, jalan ini sangat menantang dengan tingkat kompetisi yang tinggi. Namun, menurutnya, kompetisi tersebut sangat fair karena para pelamar akan bersaing dengan kandidat dari berbagai negara, termasuk warga negara tujuan studi itu sendiri.

Sumber foto : Dok. Next Gen Edu

Ia menambahkan, kompetensi bahasa Inggris seperti IELTS maupun TOEFL iBT dengan skor tertentu memang menjadi syarat wajib. Meski demikian, hal itu bukan sesuatu yang mustahil dicapai selama ada kemauan kuat.

“Ini bukan hanya soal kuliah. Ini tentang positioning. Dengan studi di luar negeri, peluang untuk berkarier secara global terbuka lebih lebar, termasuk kesempatan mendapatkan Permanent Resident seperti di Australia, New Zealand, Canada, UK, Blue Card di Eropa, hingga Green Card di Amerika Serikat setelah studi selesai, apabila ingin berkarier langsung di negara tujuan tanpa harus ada drama kembali ke Indonesia,” jelas pria yang juga pernah berkarier di perusahaan dealership otomotif terbesar, Autoleague Pty Ltd di Australia tersebut.

Aji pun menyampaikan pesan khusus bagi lulusan sarjana dan magister yang saat ini masih menganggur.

“Anda bukan berarti gagal. Itu hanya berarti Anda sedang berada di fase jeda, dan jeda ini bisa diubah menjadi quantum leap atau lompatan besar.”

Menurutnya, banyak lulusan yang merasa kehilangan arah setelah menyelesaikan studi. Padahal, satu keputusan untuk mulai mendaftar beasiswa bisa mengubah hidup dalam satu hingga dua tahun ke depan.

“Bayangkan, Anda belajar di luar negeri, memiliki jaringan internasional, lalu pulang dengan peluang karier dan pendapatan yang jauh lebih besar.”

Ia menilai, hambatan terbesar seringkali bukan pada kemampuan, melainkan keberanian untuk memulai.

“Banyak orang menunda karena merasa IPK-nya biasa saja, kemampuan bahasa Inggris belum cukup baik, atau tidak punya biaya. Semua itu hanya alasan klasik. Padahal semuanya bisa dikejar. Yang tidak bisa dikejar adalah waktu yang terus berjalan.”

Menurutnya, beasiswa bukan hanya untuk mereka yang paling pintar.

“Beasiswa adalah untuk mereka yang paling siap dan paling berani mencoba. Kalau Anda tetap diam, tidak ada yang berubah. Tapi kalau mulai hari ini, satu tahun lagi hidup Anda bisa sangat berbeda. Jadi daripada terus merasa tertinggal, ubah posisi dari penonton menjadi peserta.”

Sebagai lembaga yang menaunginya, Next Gen Edu menghadirkan pendekatan berbeda dalam pendampingan beasiswa internasional. Lembaga ini telah membantu banyak siswa yang saat ini sedang menempuh studi melalui jalur beasiswa internasional maupun melanjutkan karier di luar negeri.

Next Gen Edu tidak hanya fokus pada proses administratif, tetapi juga membantu peserta membangun strategi untuk menembus beasiswa dari jaringan konsorsium internasional yang belum banyak diketahui publik melalui pendampingan intensif secara one-on-one.

Dengan pendekatan strategis dan personal, coaching individu secara berkala, serta Achievement Motivation Training (AMT), Next Gen Edu mendampingi lulusan S1 maupun S2—baik yang masih mencari kerja maupun yang sudah bekerja—untuk keluar dari persaingan lokal yang stagnan dan naik ke level global yang lebih kompetitif.

Sebagai mitra strategis, Next Gen Edu menghadirkan pendampingan menyeluruh mulai dari pemilihan program studi, penyusunan dokumen aplikasi, hingga strategi lolos seleksi beasiswa ke berbagai negara di dunia, dan terbuka untuk semua jurusan.

Artikel Disetujui Oleh

Sorotan

Ads