Arkeolog Gencar Restorasi Perpustakaan Kuno di Angkor Wat, Kamboja
Phnom Penh (SIAR) – Para arkeolog dari Otoritas Nasional APSARA (ANA) Kamboja saat ini tengah gencar melakukan upaya restorasi terhadap perpustakaan bagian utara yang rusak di kompleks ikonis Angkor Wat. Perpustakaan ini terletak di dalam Taman Arkeologi Angkor, sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO di Kamboja.
Proyek restorasi empat bulan ini, yang dimulai pada November 2025 dan ditargetkan rampung Februari 2026, bertujuan mengembalikan kejayaan salah satu struktur penting di Angkor Wat. Hal ini diungkapkan ANA dalam rilis pers mereka pada Kamis (22/1).
Mao Sokny, seorang petugas teknis di Departemen Konservasi Monumen dan Arkeologi Preventif ANA, menjelaskan bahwa struktur perpustakaan tersebut mengalami kerusakan signifikan di beberapa area.
"Batu-batu fondasi telah mengalami kerusakan, beberapa blok batu telah bergeser dari posisi semula, dan sejumlah batu atap telah runtuh," kata Sokny.
Dia menambahkan, pekerjaan restorasi difokuskan pada perbaikan kerusakan struktural. "Pekerjaan restorasi meliputi penggantian batu fondasi yang hilang untuk memastikan kestabilan struktural, penataan kembali batu atap yang runtuh ke posisi semula, dan penyegelan fondasi dengan mortar tahan air," jelas Sokny.
"Selain itu, tim konservasi batu menerapkan teknik perbaikan khusus untuk memperkuat elemen-elemen yang mengalami pelapukan seperti tiang, dinding, kusen pintu, dan beberapa relief bas Apsara," tambahnya.
Menurut Sokny, progres pekerjaan restorasi saat ini telah mencapai sekitar 60 persen.
Angkor Wat, yang dibangun pada abad ke-12 oleh Raja Suryavarman II, merupakan salah satu monumen utama di Taman Arkeologi Angkor. Situs ini terdaftar sebagai Warisan Dunia UNESCO di Provinsi Siem Reap, Kamboja.
Taman Arkeologi Angkor, dengan luas 401 kilometer persegi, menjadi rumah bagi 91 kuil kuno yang dibangun antara abad ke-9 hingga ke-13.
Sebagai destinasi wisata paling populer di Kamboja, taman kuno ini menarik total 955.131 pengunjung mancanegara dari 197 negara dan kawasan sepanjang tahun 2025. Angkor Enterprise, perusahaan milik negara, melaporkan bahwa penjualan tiket dari kunjungan tersebut meraup pendapatan kotor hampir 45 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp16.902). Lima negara penyumbang wisatawan terbesar untuk situs ini adalah Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Tiongkok, dan Jepang.
Pewarta: Xinhua
Editor: Junaydi Suswanto
Hak Cipta © SIAR 2026








