Hujan deras yang mengguyur Kota Makassar dan sekitarnya sejak Selasa malam menyebabkan banjir parah di sejumlah wilayah. Tim SAR gabungan dari berbagai instansi bergerak cepat mengevakuasi ribuan warga yang terjebak banjir, terutama di daerah-daerah yang paling terdampak seperti Kecamatan Manggala dan Moncongloe, Kabupaten Maros. Operasi penyelamatan ini menjadi prioritas utama mengingat ketinggian air yang terus meningkat dan potensi ancaman yang ditimbulkan.
Dampak Terparah di Manggala dan Moncongloe
Kecamatan Manggala menjadi salah satu wilayah dengan dampak banjir terparah. Di Blok 10 dan Blok 8, ketinggian air mencapai lebih dari satu meter, memaksa warga untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Tim SAR gabungan menggunakan perahu karet dan kendaraan taktis untuk menjangkau warga yang terjebak di rumah-rumah mereka. Evakuasi diprioritaskan bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penyandang disabilitas.
Selain Manggala, banjir juga melanda Perumahan BTN Kodam III di Kelurahan Katimbang, Kota Makassar, yang terbagi dalam tiga titik terdampak. Kondisi serupa juga terjadi di wilayah Moncongloe, Kabupaten Maros, di mana curah hujan tinggi menyebabkan sungai meluap dan merendam permukiman warga. Secara keseluruhan, enam titik banjir di tiga wilayah menjadi fokus utama operasi penyelamatan pada hari Rabu, 25 Februari 2026.
Koordinasi Lintas Sektor Percepat Penanganan
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Makassar, Muhammad Arif Anwar, menegaskan komitmennya untuk mengerahkan seluruh sumber daya yang ada guna mempercepat proses evakuasi. "Kami membagi personel ke beberapa sektor agar penanganan lebih cepat dan efektif. Prioritas kami adalah menyelamatkan kelompok rentan. Kami juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan unsur terkait untuk memastikan keselamatan warga," ujarnya.
Koordinasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan operasi penyelamatan ini. Basarnas Makassar bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, dan relawan dari berbagai organisasi kemasyarakatan. Sinergi ini memungkinkan tim SAR gabungan untuk bergerak cepat dan efisien dalam menjangkau korban banjir.
Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa beberapa wilayah mengalami dampak banjir yang cukup parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. "Ada beberapa wilayah yang terdampak cukup serius. Kami terus menjalin koordinasi dengan pemerintah setempat untuk membantu pendekatan kepada masyarakat, karena masih ada warga yang memilih bertahan di rumah dan belum bersedia dievakuasi," jelas Andi Sultan.
Tantangan Evakuasi dan Pendekatan Persuasif
Salah satu tantangan utama dalam operasi evakuasi adalah masih adanya warga yang enggan meninggalkan rumah mereka, meskipun sudah diimbau oleh petugas. Beberapa warga beralasan khawatir akan kehilangan harta benda, sementara yang lain merasa rumah mereka cukup aman untuk bertahan.
Menghadapi situasi ini, tim SAR gabungan menerapkan pendekatan persuasif. Petugas memberikan penjelasan mengenai potensi bahaya banjir, seperti risiko tersengat listrik, penyakit menular, dan bangunan yang ambruk. Selain itu, petugas juga meyakinkan warga bahwa harta benda mereka akan dijaga dengan baik selama proses evakuasi.
Pendekatan persuasif ini terbukti efektif dalam meyakinkan sebagian besar warga untuk bersedia dievakuasi. Namun, masih ada beberapa warga yang tetap memilih bertahan. Tim SAR gabungan terus berupaya melakukan pendekatan persuasif dan memberikan bantuan logistik kepada warga yang memilih bertahan, sambil tetap memantau kondisi mereka secara berkala.
Antisipasi Dampak Lanjutan dan Upaya Pemulihan
Banjir yang melanda Kota Makassar dan sekitarnya tidak hanya menyebabkan kerugian materi, tetapi juga mengancam kesehatan dan keselamatan warga. Pemerintah daerah dan instansi terkait telah menyiapkan posko kesehatan dan dapur umum untuk melayani kebutuhan pengungsi. Selain itu, tim medis juga diterjunkan ke lokasi pengungsian untuk memberikan pelayanan kesehatan dan mencegah penyebaran penyakit menular.
Setelah banjir surut, pemerintah daerah akan segera melakukan pendataan kerusakan dan kerugian akibat banjir. Data ini akan digunakan sebagai dasar untuk memberikan bantuan kepada warga yang terdampak. Selain itu, pemerintah daerah juga akan melakukan evaluasi terhadap sistem drainase dan tata ruang kota untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Banjir yang melanda Kota Makassar menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam. Koordinasi lintas sektor, pendekatan persuasif, dan antisipasi dampak lanjutan menjadi kunci keberhasilan dalam penanganan bencana. Diharapkan, kejadian ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk meningkatkan upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.








