Dokter Kulit Ingatkan Risiko Infeksi Kulit dari Baju ‘Thrifting’ yang Tidak Higienis
Jakarta (SIAR) – Penggemar ‘thrifting’ atau membeli baju bekas patut waspada. Dokter spesialis kulit dan kelamin, dr. Fitria Agustina, Sp.KK, FINSDV, FAADV, mengingatkan bahwa penggunaan pakaian bekas tanpa proses pembersihan yang memadai dapat secara signifikan meningkatkan risiko gangguan kulit hingga penularan infeksi.
Menurut dr. Fitria, risiko utama dari penggunaan baju bekas yang tidak dibersihkan secara benar adalah "penularan penyakit kulit dan iritasi pada kulit," ujarnya kepada SIAR di Jakarta, Kamis (5/2).
Dokter yang juga bergabung di Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) itu menjelaskan, pakaian bekas berpotensi menyimpan sisa keringat, jamur, bakteri, dan bahkan residu bahan kimia dari pemilik sebelumnya. Kondisi ini, jika langsung digunakan tanpa pencucian, dapat memicu berbagai reaksi pada kulit, terutama bagi mereka yang memiliki kulit sensitif.
Keluhan yang umum muncul antara lain gatal-gatal, ruam kemerahan, hingga infeksi kulit yang lebih serius.
Dr. Fitria menekankan, infeksi jamur seperti kurap merupakan yang paling sering berpotensi menular melalui pakaian bekas karena kemampuannya bertahan lama di serat kain. Selain itu, penyakit kudis (skabies) yang disebabkan tungau juga dapat berpindah melalui pakaian yang terkontaminasi.
"Selain jamur, ada juga skabies dan kutu yang bisa berpindah kalau bajunya dipakai cukup lama. Infeksi bakteri ringan juga bisa terjadi, meski lebih jarang," jelas dokter lulusan pendidikan spesialis Dermatologi dan Venereologi Universitas Indonesia tersebut.
Mikroorganisme berbahaya ini memiliki daya tahan yang cukup lama di serat kain. Jamur, misalnya, mampu bertahan berhari-hari hingga berminggu-minggu, terutama jika pakaian dalam kondisi lembap dan tidak dibersihkan dengan baik. Tungau penyebab skabies dapat hidup sekitar dua hingga tiga hari di kain, sementara kutu dan telurnya juga bisa bertahan selama beberapa hari.
Masyarakat diimbau untuk mewaspadai tanda awal gangguan kulit setelah menggunakan baju ‘thrifting’, seperti gatal yang menetap, ruam, bentol kecil, kulit bersisik, atau bercak melingkar. "Apabila keluhan tidak membaik atau justru meluas, segera konsultasikan ke dokter untuk penanganan yang tepat," imbuh dr. Fitria, yang juga praktik di Klinik Utama Promec Pecenongan.
Di luar aspek kesehatan, isu peredaran pakaian bekas impor juga telah menjadi perhatian pemerintah. Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, sebelumnya menyoroti bahwa impor pakaian bekas ilegal merugikan pasar dan menekan industri tekstil dalam negeri karena harga jualnya yang jauh lebih murah dibanding produk lokal.
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © SIAR 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita SIAR.








