• 16 Feb 2026

Banjir dan Sampah di Bali: Memahami Fenomena dari Perspektif Fisika

Siang itu, terik matahari membakar Kota Denpasar. Di beberapa sudut, tumpukan sampah rumah tangga terlihat menggunung, mengundang bau tak sedap…

Siang itu, terik matahari membakar Kota Denpasar. Di beberapa sudut, tumpukan sampah rumah tangga terlihat menggunung, mengundang bau tak sedap yang menyengat hidung warga. Tumpukan itu tidak hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga menandai permasalahan klasik pengelolaan limbah di kota ini. Sejak Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung mengalami pembatasan penerimaan sampah, penumpukan di sejumlah tempat penampungan sementara semakin nyata. Sampah yang tak terangkut secara optimal akhirnya bermuara ke saluran air dan sungai di wilayah perkotaan.

Tekanan dari tumpukan sampah yang kian tak terkendali akhirnya memaksa pemerintah mengambil jalan kompromi. Di tengah upaya penataan ulang sistem pengelolaan limbah, Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan bahwa Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, memberikan perpanjangan waktu operasional TPA Regional Sarbagita Suwung hingga 28 Februari 2026. Keputusan ini menunda rencana penutupan yang semula dijadwalkan pada 23 Desember 2025, memberi ruang transisi bagi pemerintah daerah di tengah krisis sampah yang belum sepenuhnya teratasi.

“Menteri Lingkungan Hidup telah menugaskan tim untuk meninjau Bali, sehingga menghasilkan penilaian bahwa Pemprov Bali telah melakukan upaya perbaikan terhadap kewajiban sanksi administratif,” ujar Koster, Senin (22/12/2025), akrab disapa Menteri LHK. Peninjauan itu menjadi dasar keputusan menunda penutupan TPA Suwung, sekaligus memberi waktu bagi pemerintah daerah menyiapkan strategi pengelolaan sampah lebih efektif.

Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, dan Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, memastikan TPA Suwung akan ditutup paling lambat 28 Februari 2026. Selama masa transisi, pembuangan sampah dibatasi maksimal 50 persen dari kapasitas truk harian. Sisanya harus dikelola secara mandiri melalui Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS), melibatkan Perbekel, Lurah, dan Bandesa Adat setempat, agar distribusi sampah tetap terkendali.

Bagi warga, aturan itu terasa abstrak, sementara yang nyata adalah tumpukan sampah di sekitar rumah. Saluran drainase tersumbat, membuat aktivitas harian terganggu, bau menyengat terus menempel, dan kekhawatiran soal kesehatan meningkat. Di balik aturan dan tenggat waktu, terlihat perjuangan nyata pemerintah dan masyarakat menata sampah dengan lebih baik sebuah upaya yang harus dijalankan bersama.

Namun, upaya ini bukan sekadar soal kebersihan; tumpukan sampah yang tak terkelola dengan baik bisa menjadi penyebab risiko lebih luas, termasuk memicu genangan saat hujan deras. Dari sinilah terlihat bahwa kebijakan pengelolaan sampah dan kesadaran warga menjadi fondasi penting sebelum fenomena alam seperti banjir menimbulkan dampak yang lebih besar.

Pemerintah Provinsi Bali terus mendorong pengelolaan sampah yang lebih efektif melalui strategi Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS). Di lapangan, proses ini berjalan perlahan, karena pemerintah daerah dan masyarakat harus menyeimbangkan antara kebutuhan operasional pengangkutan sampah dan keterbatasan fasilitas TPA. Bagi warga, tumpukan sampah yang menumpuk di pemukiman bukan sekadar pemandangan atau bau yang mengganggu. Ketika hujan deras mengguyur, limbah rumah tangga itu seolah “bergerak”, berubah dari tumpukan diam menjadi penghalang yang menyumbat aliran air, menambah kesulitan sehari-hari dan memperlihatkan bagaimana persoalan sampah bisa berinteraksi langsung dengan lingkungan.

Banjir di Denpasar: Ancaman yang Meningkat

Sejak malam, hujan deras tak henti-hentinya mengguyur Bali, khususnya Kota Denpasar. Saluran air yang biasanya mengalirkan limpasan hujan dengan lancar kini tersumbat oleh tumpukan sampah yang menggunung di beberapa titik. Hujan deras malam itu tidak hanya membasahi Kota Denpasar, tetapi juga membawa kecemasan bagi warga yang tinggal di kawasan padat penduduk. Air perlahan naik, merambat melalui selokan yang tak lagi mampu menampung limpasan hujan. Sampah yang menumpuk di saluran air memperlambat aliran, membuat genangan tak terelakkan. Di sejumlah titik, jalanan berubah menjadi aliran air keruh, memutus akses dan memaksa warga bertahan di rumah masing-masing.

Musibah banjir yang menerjang dua wilayah di Provinsi Bali, yakni Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, Minggu (14/12/2025) pukul 02.00 Wita, tak hanya tercatat dalam data, tetapi dirasakan langsung oleh warga. Malam itu, air datang tanpa banyak peringatan. Di kawasan tempat tinggalnya di Denpasar, genangan perlahan naik, menyusup ke halaman rumah hingga memaksa warga bersiap menyelamatkan barang-barang. I Gusti Bagus Parama Nandana, mahasiswa Fisika Universitas Udayana, masih mengingat jelas kepanikan yang muncul ketika hujan deras tak kunjung reda.

“Air naik cepat sekali. Saluran di depan rumah sudah penuh, tapi hujan belum berhenti. Kami cuma bisa angkat barang seadanya,” ujarnya. Ia menuturkan bahwa aktivitas warga lumpuh selama beberapa jam, sementara akses jalan tertutup genangan. “Bukan cuma rumah, jalan juga tidak bisa dilewati. Rasanya capek dan khawatir, apalagi melihat air terus bertambah.”

Kisah warga malam itu tidak berhenti sebagai cerita personal, melainkan potret bersama tentang bagaimana banjir menyusup ke kehidupan sehari-hari. Di tengah hujan yang tak kunjung reda, warga keluar rumah dengan senter seadanya, sebagian mengangkat perabot ke tempat lebih tinggi, sebagian lain berjaga di depan gang yang mulai tergenang. Suara air bercampur langkah tergesa dan teriakan saling mengingatkan memenuhi lingkungan yang biasanya tenang. Di balik genangan itu, tumpukan sampah yang menyumbat saluran air mengubah hujan biasa menjadi ancaman nyata. Sungai meluap, selokan kehilangan fungsinya, dan rasa aman perlahan terkikis. Malam itu, pengelolaan lingkungan tak lagi terasa sebagai urusan administratif atau sekadar program kebersihan, melainkan persoalan keselamatan. Sistem drainase kota yang rapuh menunjukkan batas kemampuannya ketika sampah dibiarkan menumpuk, meninggalkan warga dalam ketidakpastian. Banjir menjadi pengingat keras bahwa kelalaian kecil terhadap lingkungan dapat berujung pada dampak besar yang menyentuh ruang hidup masyarakat secara langsung.

Nabila Ayudia (kiri) saat mewawancarai Dr. I Wayan Supardi, dosen Fisika Universitas Udayana, Kamis (24/12/2025).

Jam dinding menunjukkan pukul dua belas siang. Langit mendung menggantung di atas, memberi cahaya abu-abu yang lembut pada koridor kampus. Beberapa mahasiswa berpapasan, sebagian masih membicarakan praktikum, sebagian lain menunduk menatap layar ponsel. Langkahnya melambat di sepanjang koridor kampus sore itu, tepat setelah kelas Fisika Instrumentasi usai. Di tangannya, catatan kuliah dan spidol masih tergenggam, sementara ruang kelas di belakangnya menyimpan sisa diskusi tentang sensor, pengukuran, dan ketelitian alat. Beberapa mahasiswa berpapasan, sebagian masih membicarakan praktikum, sebagian lain berjalan sambil menunduk menatap layar gawai.

Di luar gedung, sisa hujan beberapa hari lalu masih meninggalkan genangan kecil di halaman kampus. Sosok itu berhenti sejenak, menatap air yang tertahan di permukaan tanah, seolah membaca sesuatu yang lebih dari sekadar pantulan langit. Dari kebiasaan mengamati detail inilah, ia memaknai fenomena alam dengan cara berbeda. Banjir, baginya, bukan sekadar peristiwa musiman, melainkan hasil pertemuan antara hukum fisika dan aktivitas manusia.

Pengamatan ini sejalan dengan penjelasan I Wayan Supardi, S.Si., M.Si., dosen Fisika Universitas Udayana—akrab dipanggil Supardi—yang menekankan, “Fenomena banjir di Bali bukan semata akibat hujan lebat, tetapi juga karena hambatan pada saluran air.”Sampah mengurangi luas penampang efektif, sehingga air yang seharusnya mengalir lancar justru meluap.” Konsep fisika fluida menjelaskan bahwa debit air yang sama ketika saluran menyempit akan meningkatkan tekanan dan turbulensi. Air yang seharusnya mengalir lancar terdorong mencari jalur alternatif, sehingga genangan terjadi di titik-titik rendah yang sebelumnya aman. Hukum kontinuitas fluida menegaskan bahwa laju aliran harus tetap konstan, ketika penampang menyempit, kecepatan meningkat dan energi kinetik mendorong air meluap ke permukaan.

Air hujan dipahami sebagai fluida yang bergerak mengikuti perbedaan ketinggian dan tekanan. Ketika saluran air tersumbat oleh sampah, luas penampang aliran menyempit, menyebabkan kecepatan dan tekanan air berubah. Energi kinetik yang seharusnya mendorong air mengalir lancar justru terhambat, memicu turbulensi dan penumpukan massa air di satu titik. Gravitasi kemudian menarik air menuju area yang lebih rendah, mempercepat terjadinya genangan. Sampah, dalam proses ini, bertindak sebagai hambatan fisik yang mengganggu keseimbangan aliran dan mengubah hujan biasa menjadi banjir yang merugikan.

Menurut Supardi, solusi sederhana dari perspektif fisika dapat membawa perubahan nyata: “Mengurangi sumbatan sampah secara rutin tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga menormalkan aliran dan tekanan air di saluran drainase. Ketika hambatan berkurang, energi kinetik air bisa tersalurkan lebih efektif, sehingga luapan air diminimalkan.” Ia menekankan pentingnya menjaga kemiringan dan bentuk saluran, serta memastikan jalur aliran bebas dari sampah atau benda lain. Langkah-langkah sederhana ini, jika diterapkan konsisten, dapat mengurangi risiko genangan bahkan saat hujan deras.

Gagasan Teknologi Fisika di Balik Penanganan sampah dan banjir

Di tengah penundaan penutupan TPA Suwung, sampah menumpuk di sejumlah titik di Kota Denpasar. Beberapa alternatif pengelolaan, seperti pembakaran, kerap dipertimbangkan, meski menimbulkan gas rumah kaca dan risiko racun bagi saluran pernapasan. Di sisi lain, jika tumpukan sampah terus dibiarkan, ancaman banjir semakin nyata.

Di sebuah laboratorium yang dipenuhi alat dan komponen instrumen, I Wayan Supardi, S.Si., M.Si., menatap tumpukan sampah yang siap diuji. Ia menyingkirkan sejenak kebingungan akibat tumpukan limbah yang menggunung di kota, lalu menunjuk sebuah prototipe yang ia sebut eco-condensor burner. “Kami ingin mengubah cara pandang terhadap sampah,” ujarnya sambil tersenyum.

Teknologi ini dirancang untuk mentransformasi asap hitam menjadi uap bersih melalui prinsip kondensasi. Setiap detik pembakaran, energi kimia dari sampah dilepaskan menjadi panas, memanaskan udara dan uap air di dalam sistem. Dari sini, ia berharap sampah tidak lagi menjadi masalah semata, tetapi bisa dimanfaatkan secara ilmiah, memadukan fisika dan inovasi teknologi untuk solusi lingkungan yang lebih bersih.

“Dalam merespons tumpukan sampah yang terus menumpuk, saya merancang teknologi yang kami sebut eco-condensor burner. Ide dasarnya adalah mentransformasi asap hitam dari pembakaran sampah menjadi uap bersih melalui prinsip kondensasi. Ia menambahkan, “kalo saya baru berpikir ya, namun secara teori itu sudah benar.”

 Sebelum masuk ke detail teknis, Supardi menjelaskan dasar fisika di balik inovasinya. “Dalam proses ini, energi kimia dari bahan bakar sampah diubah menjadi panas, yang memanaskan udara dan uap air di dalam sistem untuk menghasilkan uap bersih. Prinsip hukum pertama termodinamika adanya perbedaan gas kalau kita bakar akan timbul temperatur yang tinggi, kemudian gas ringan kita alirkan ke tekanan yang lebih rendah.”

Di sudut laboratorium, saat prototipe teknologi eco-condensor burner diuji, Sampah rumah tangga dimasukkan ke kaleng pertama, dibakar, dan menghasilkan asap hitam pekat. Asap itu tidak langsung dilepas ke udara, melainkan diarahkan melalui pipa ke kaleng kedua berisi air, di mana partikel padat seperti debu dan jelaga tertahan, meninggalkan aliran asap yang lebih bersih.

Selanjutnya, lapisan arang aktif menyerap gas beracun, senyawa kimia berbahaya, dan bau tersisa, memastikan udara yang keluar lebih ramah lingkungan. Air di drum kedua pun akan keruh seiring proses berlangsung, dan perlu diganti secara berkala agar penyaringan tetap efektif.

“Dengan mekanisme ini, energi dari pembakaran sampah dimanfaatkan optimal, polusi berkurang, dan uap yang keluar bisa dikelola aman,” jelas I Wayan Supardi, S.Si., M.Si., sambil menunjuk aliran sistem.

Supardi menegaskan bahwa penerapan teknologi ini bukan sekadar menurunkan polusi dan emisi gas rumah kaca, tetapi juga meningkatkan efisiensi energi dari proses pembakaran limbah rumah tangga. Di Pulau Dewata, yang kaya ekosistem dan keindahan alam, inovasi ini diharapkan menjadi solusi ramah lingkungan sekaligus mendukung kualitas hidup masyarakat setempat. Ia menekankan, cara mengantisipasi dampak sampah yang lebih luas adalah dengan mengelola limbah secara bertanggung jawab: tidak melanggar undang-undang, tidak merusak lingkungan, dan meminimalkan gangguan terhadap ekosistem. Jika langkah ini diterapkan secara konsisten, baik di sektor industri pariwisata maupun hunian, pemerintah tidak akan menghadapi kesulitan besar dalam pengelolaan sampah, karena setiap pihak telah berperan aktif menjaga kebersihan dan keberlanjutan lingkungan.

Oleh : Nabila Ayudia Purnama Maharani (2508521044)

Artikel Disetujui Oleh
Reporterthemastermin

Sorotan

Pengembangan Sistem Web Absensi Dorong Digitalisasi Administrasi di SMP PGRI 35 Serpong
Tangerang Selatan, November 2025 — Universitas Pamulang melalui Program Studi Teknik Informatika Universitas Pamulang kembali menunjukkan kontribusi kepada masyarakat melalui...
14 Feb 2026Education
Zhafira Wibawa Mukti, Pelajar Indonesia yang Pukau Peserta Pacifichem 2025 di Hawaii
Inovasi teknologi dalam pemantauan lingkungan kini menjadi fokus global untuk menjaga keberlanjutan sumber daya alam dan kesehatan masyarakat. Data internasional...
14 Feb 2026Education
Komunika Pererat Sinergi BEM FIKOMM UMBY dan BEM FIKOM UNISBA
Sebagai wujud komitmen mempererat hubungan antarlembaga mahasiswa komunikasi, BEM Fakultas Ilmu Komunikasi dan Multimedia Universitas Mercu Buana Yogyakarta (FIKOMM UMBY)...
9 Jan 2026Education
Sinergi Humanisme dan Teknologi dalam Visi Dr. Didik untuk Ilkom
Di tengah arus transformasi ini, Dr. Didik Haryadi Santoso, S.I.Kom., M.A. menekankan satu hal yang tidak boleh tergeser: nilai kemanusiaan....
8 Jan 2026Education
Mahasiswa Psikologi UMK Jalani Magang di PT Daekyung Tech, Divisi HRD
Kudus — Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK) mengikuti program magang industri di PT Daekyung Tech, perusahaan manufaktur...
8 Jan 2026Education
Dosen UWKS Edukasi Peternak Jombang Manfaat Probiotik untuk Tingkatkan Kesehatan dan Produktivitas Ternak
Jombang – Tim dosen Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa penyuluhan dan bimbingan teknis pemanfaatan...
2 Jan 2026Education
Ads
ads