• 2 Jan 2026

Alex Kawilarang: "Saya Bukan Pahlawan!"

Jakarta – Kolonel Inf. (Purn.) Alexander Evert Kawilarang, tokoh militer yang dikenal sebagai pendiri pasukan komando cikal bakal Kopassus, menolak…

Jakarta – Kolonel Inf. (Purn.) Alexander Evert Kawilarang, tokoh militer yang dikenal sebagai pendiri pasukan komando cikal bakal Kopassus, menolak mentah-mentah jika dirinya disebut pahlawan. Penolakan ini bukan tanpa alasan, melainkan karena kekecewaannya terhadap penyalahgunaan gelar pahlawan demi kepentingan pribadi dan pencitraan.

"Saya benci kalau dengar begitu [gelar pahlawan disalahgunakan]. Karena itu omong kosong," tegas Kawilarang dalam sebuah wawancara dengan majalah Mutiara. "Kalau pahlawan yang betul itu yang [berjuang] sampai mati, sesudah pensiun tidak. Saya merasa diri saya bukan pahlawan."

Penolakan Kawilarang terhadap gelar pahlawan juga tercermin dari permintaannya untuk tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Ia menilai, taman makam tersebut banyak dihuni oleh sosok-sosok yang tidak mencerminkan pribadi seorang pahlawan. "Lihat saja di [Taman Makam Pahlawan] Kalibata, ada koruptor, banyak orang yang menyeleweng waktu Aksi [agresi militer Belanda] Kedua," sentilnya. "Kalau meninggal saya tidak mau [dimakamkan] di Kalibata, karena terlalu banyak seperti itu. Lebih baik di Cikutra, Bandung."

Perjuangan dan Kontroversi

Sebagai pejuang Angkatan 45, jasa Kawilarang dalam Perang Kemerdekaan tidak bisa dipungkiri. Ia terlibat dalam berbagai palagan dan dikenal sebagai perwira tempur yang menonjol. Namun, keterlibatannya dalam pemberontakan Permesta di Sulawesi Utara pada akhir 1950-an, sedikit mencoreng namanya.

Sebelumnya, Kawilarang sempat dipercaya memimpin penumpasan pemberontakan Andi Azis dan gerakan separatis Republik Maluku Selatan (RMS). Ia juga berjasa dalam membentuk pasukan elite Kesatuan Komando (Kesko) Tentara Teritorium III Siliwangi, yang menjadi cikal bakal Kopassus. Bahkan, jauh sebelum itu, ia telah merintis pasukan komando di Sumatra Utara dengan membentuk Kompi Pasukan Komando (Kipasko) pada 1950.

Menerima Bintang Gerilya Saat Sakit

Pada paruh pertama 1990-an, Kawilarang menderita sakit keras. Saat itulah, negara menganugerahinya Bintang Gerilya. "Saya dengar ada beberapa orang yang dulu bawahan saya yang lapor kepada Presiden [Soeharto]. Ketika itu saya sakit keras, satu tahun di rumah sakit karena kanker. Dipikir ini orang sudah mau mati. Maka diberikan Bintang Gerilya. Jadi dapat Bintang Gerilya masih di rumah sakit," kenang Kawilarang.

Meski menolak disebut pahlawan, nama Alex Kawilarang tetap dihormati oleh masyarakat Minahasa, warga Kodam Siliwangi, dan keluarga veteran Perang Kemerdekaan di Sumatra Utara. Ia wafat pada 6 Juni 2000 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung, sesuai dengan wasiatnya.

Artikel ditulis oleh
ReporterPramono

Sorotan

Lima Generasi Keluarga Endang Sumitra: Setia Mengabdi di Istana Bogor
Bogor - Sebuah dedikasi lintas generasi terukir di Istana Bogor. Keluarga Endang Sumitra telah mengabdikan diri selama lima generasi, merawat...
16 Nov 2025Sejarah
Soeharto: Dari Barak KNIL ke Panggung Pahlawan, Sebuah Kontroversi Sejarah
Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto pada 10 November lalu menuai polemik. Di tengah perdebatan panas di media sosial, terungkap...
16 Nov 2025Sejarah
Jejak Pipa Gas Kolonial: Dulu Belanda, Kini Milik Indonesia
Jaringan gas di Indonesia punya sejarah panjang. Dimulai dari era kolonial Belanda, sempat terhenti karena perang, lalu dinasionalisasi. Bagaimana kelanjutan...
13 Nov 2025Sejarah
NU dan "Benteng Terakhir": Mengapa Kementerian Agama Begitu Penting?
Nahdlatul Ulama (NU) dikenal memiliki pengaruh kuat dalam pemerintahan Indonesia. Salah satu alasan utamanya adalah demi mengamankan posisi strategis di...
10 Nov 2025Sejarah
Kontroversi Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto Mencuat
Jakarta - Rencana pemerintah untuk memberikan gelar pahlawan nasional kepada mantan Presiden Soeharto memicu perdebatan sengit di tengah masyarakat. Pro...
8 Nov 2025Sejarah
"Pangku": Potret Pilu Kehidupan Marginal Lewat Lensa Reza Rahadian
INDRAMAYU, JAWA BARAT – Hiruk pikuk dangdut koplo memecah keheningan malam di sebuah perkampungan Indramayu. Di tengah gemerlap kafe remang,...
8 Nov 2025Sejarah
Ads
ads